简体中文
繁體中文
English
Pусский
日本語
ภาษาไทย
Tiếng Việt
Bahasa Indonesia
Español
हिन्दी
Filippiiniläinen
Français
Deutsch
Português
Türkçe
한국어
العربية
Rupee India Cetak Rekor Terendah Tertekan Lonjakan Harga Minyak dan Yield Obligasi AS
Ikhtisar:Rupee India menyentuh rekor terendah baru terhadap dolar AS akibat lonjakan harga minyak mentah dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Di sisi lain, tren kenaikan imbal hasil obligasi AS ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir turut memperkuat dolar dan menekan mata uang Asia berisiko.

Mata uang rupee India kembali berada dalam tekanan berat dan mencetak rekor terendah baru terhadap dolar AS.
Pasangan mata uang USD/INR terpantau hampir menyentuh level 97, menandai rekor pelemahan untuk ketujuh kalinya secara berturut-turut. Secara keseluruhan, rupee telah anjlok sekitar 6% sejak akhir Februari, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia.
Faktor utama yang membebani pergerakan rupee adalah lonjakan tajam harga minyak mentah global yang telah melesat lebih dari 50% sejak akhir bulan Februari lalu. Mengingat India harus mengimpor lebih dari 80% kebutuhan minyak mentahnya, kenaikan harga ini sangat membebani neraca perdagangan negara tersebut.
Kekhawatiran pasokan ini terus bertahan seiring kebuntuan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi berdampak pada jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Kelemahan mata uang kawasan Asia juga diperparah oleh tekanan dari pasar obligasi global. Imbal hasil (yield) obligasi AS terpantau terus melonjak tajam menuju level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Peningkatan ini didorong oleh kekhawatiran bahwa tingginya harga energi akan mempercepat laju inflasi, yang pada akhirnya dapat mendorong bank sentral untuk mempertahankan tren kenaikan suku bunga di bulan-bulan mendatang.
Kombinasi antara konflik geopolitik dan ancaman inflasi global telah memicu arus modal keluar yang besar dari aset berisiko. Di India, investor asing tercatat menarik dana berkisar antara $22 miliar hingga $25 miliar dari pasar saham dan obligasi lokal sejak konflik memanas.
Mengingat ketidakpastian seputar eskalasi di Timur Tengah masih membayangi, pelaku pasar valuta asing diperkirakan akan terus bersikap hati-hati sambil mencerna setiap perkembangan negosiasi yang ada.
Disclaimer:
Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.
